KAS FC Honocoroko

KAS FC Honocoroko, Carakanipun Paguyupan Ki Anom Suroto Fans Club Nggiyaraken Pagelaran Ringgit Purwa Lumantar Radio Lan Video Streaming

Donasi For Streaming Bank BCA Cab. Kuta-Bali 1461557207 a/n Tono Widodo

Rabu, 27 Agustus 2014


SIARAN LANGSUNG PAGELARAN WAYANG KULIT
Senin 24 Nopember 2014 pukul 21:00 WIB
KI SUKRON SUWONDHO Lakon "SYEH SUBAKIR"
DALAM RANGKA Tasyakuran Ki Anom Dwijokangko
Lokasi Ds. Karangasem Jaten Karanganyar Jawatengah


Video streaming menika dipun sengkuyung  AMANAH air mineral Banjarmasin " KESEGARAN SESUNGGUHNYA karena setiap tetesnya adalah AMANAH", Sewa Rumah di Bali Harian Call Tono Widodo telp : 0361.7426685,08164740903, 087861446788 ugi sedaya kadhang KAS FC ingkang mboten saged kula aturaken setunggal mbaka setunggal....... . Maturnuwun

LIHAT VIDEO STREAMING VIA GADGET KLIK :

Rabu, 19 Maret 2014

SEKILAS TENTANG KI ANOM SUROTO




ANOM SUROTO, H, (1948 – ), dalang Wayang Kulit Purwa, mulai terkenal sebagai dalang sejak sekitar tahun 1975-an. Ia lahir di Juwiring, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah, Rabu Legi 11 Agustus 1948. Ilmu pedalangan dipelajarinya sejak umur 12 tahun dari ayahnya sendiri, Ki Sadiyun Harjadarsana. Selain itu secara langsung dan tak langsung ia banyak belajar dari Ki Nartasabdo dan beberapa dalang senior lainnya.
Dalang laris itu juga pernah belajar di Kursus Pedalangan yang diselenggarakan Himpunan Budaya Surakarta (HBS), belajar secara tidak langsung dari Pasinaon Dalang Mangkunegaran (PDMN), Pawiyatan Kraton Surakarta, bahkan pernah juga belajar di Habiranda, Yogyakarta. Saat belajar di Habiranda ia menggunakan nama samaran Margono.
Pada tahun 1968, Anom Suroto sudah tampil di RRI (Radio Republik Indonesia), setelah melalui seleksi ketat. Tahun 1978 ia diangkat sebagai abdi dalem Penewu Anon-anon dengan nama Mas Ngabehi Lebdocarito. Tahun 1995 ia memperolah Satya Lencana Kebudayaan RI dari Pemerintah RI.
Selain aktif mendalang, ia juga giat membina pedalangan dengan membimbing dalang-dalang yang lebih muda, baik dari daerahnya maupun dari daerah lain. Secara berkala, ia mengadakan semacam forum kritik pedalangan dalam bentuk sarasehan dan pentas pedalangan di rumahnya Jl. Notodiningratan 100, Surakarta. Acara itu diadakan setiap hari Rabu Legi, sesuai dengan hari kelahirannya, sehingga akhirnya dinamakan Rebo Legen. Acara Rebo Legen selain ajang silaturahmi para seniman pedalangan, acara itu juga digunakan secara positif oleh seniman dalang untuk saling bertukar pengalaman. Acara itu kini tetap berlanjut di kediamannya di Kebon Seni Timasan, Pajang, Sukoharjo. Di Kebon seni itu berdiri megah bangunan Joglo yang begitu megah dalam area kebon seluas 5000 M2.

Hingga akhir abad ke-20 ini, Anom Suroto adalah satu-satunya yang pernah mendalang di lima benua, antara lain di Amerika Serikat pada tahun 1991, dalam rangka pameran KIAS (Kebudayaan Indonesia di AS). Ia pernah juga mendalang di Jepang, Spanyol, Jerman Barat (waktu itu), Australia, dan banyak negara lainnya. Khusus untuk menambah wasasan pedalangan me-ngenai dewa-dewa, Dr. Soedjarwo, Ketua Umum Sena Wangi, pernah mengirim Ki Anom Suroto ke India, Nepal, Thailand, Mesir, dan Yunani.
Di sela kesibukannya mendalang Anom Suroto juga menciptakan beberapa gending Jawa, di antaranya Mas Sopir, Berseri, Satria Bhayangkara, ABRI Rakyat Trus Manunggal, Nyengkuyung pembangunan, Nandur ngunduh, Salisir dll. Dalang yang rata-rata pentas 10 kali tiap bulan ini, juga menciptakan sanggit lakon sendiri antara lain Semar mbangun Kahyangan, Anoman Maneges, Wahyu Tejamaya, Wahyu Kembar dll.
Bagi Anom Suroto tiada kebahagiaan yang paling tinggi kecuali bisa membuat membuat senang penontonnya, menghibur rakyat banyak dan bisa melestarikan kesenian klasik.
Anom Suroto pernah mencoba merintis Koperasi Dalang ‘Amarta’ yang bergerak di bidang simpan pinjam dan penjualan alat perlengkapan pergelaran wayang. Selain itu, dalang yang telah menunaikan ibadah haji ini, menjadi pemrakarsa pendirian Yayasan Sesaji Dalang, yang salah satu tujuannya adalah membantu para seniman, khususnya yang berkaitan dengan pedalangan.
Dalam organisasi pedalangan, Anom Suroto menjabat sebagai Ketua III Pengurus Pusat PEPADI, untuk periode 1996 – 2001.
Pada tahun 1993, dalam Angket Wayang yang diselenggarakan dalam rangka Pekan Wayang Indonesia VI-1993, Anom Suroto terpilih sebagai dalang kesayangan.
Anom Suroto yang pernah mendapat anugerah nama Lebdocarito dari Keraton Surakarta, pada 1997 diangkat sebagai Bupati Sepuh dengan nama baru Kanjeng Raden Tumenggung (KRT) Lebdonagoro.

video

SEKILAS TENTANG KI MPP BAYU AJI


Sikap santai namun penuh filosofi. Itulah sosok dalang wayang purwa, Muhammad Pamungkas Prasetya Bayu Aji atau Ki MPP Bayu Aji. Diatas pentas sabetan wayangnya dahsyat, dan tak  kalah dengan ayahnya yang juga dalang kondang yaitu Ki Anom Suroto. Bahkan, banyak orang menyukai gaya khas sabetannya itu.

Seperti pepatah buah yang jatuh tak jauh dari pohonnya, Mas Bayu seolah mengikuti jejak sang ayah, di usianya yang relatif muda ia sudah melanglang buana mementaskan wayang sampai ke luar pulau jawa bahkan pernah juga didaulat untuk beraksi di mancanegara. Ki MPP Bayu Aji dan wayang adalah dua hal yang memang tidak bisa dipisahkan. Apalagi perkenalan keduanya yang akhirnya menjadi “intim” terjadi sejak Mas Bayu berusia 3 (tiga) tahun. Ia pun menyebutnya wayang adalah anugerah dari Tuhan Yang Maha Esa.

Waktu itu di rumah ibu di kemlayan, setiap bulan ada pertunjukan wayang ”malam  Rabu Legi” atau yang biasa di sebut “Rebo Legen” dengan menghadirkan dalang berganti-ganti. Suatu ketika Bapak (Ki Anom Suroto-red) mengundang dalang dari Nganjuk, Pak Harjunadi. Nah, sebelum pak Harjunadi ini ndalang kok ada dalang cilik yang mengawali, meski hanya beberapa menit. Mulai dari situ saya dapat motivasi agar bisa seperti dalang cilik itu, “kenang Ki MPP Bayu Aji yang kala itu tahun 1987. Maka seketika itu, ia meminta untuk dibelikan baju dalang/beskap lengkap dengan blangkon. Ia juga belajar mendalang dengan tekun. Karena melihat bakat dan tekanya yang kuat, Ki Anom Suroto pun memberi ijin untuk Ki MPP Bayu Aji tampil sebelum dirinya mendalang. “Dulu pentasnya berdiri karena masih kecil, yang ngendangi (mainkan kendang) bapak kemudian diiringi karawitan. Saya juga selalu melihat semalam suntuk jika Bapak ndalang meskipun kadang tertidur karena sudah nggak kuat” ungkap Ki MPP Bayu Aji kala itu.

Sebenarnya Ki Anom Suroto sendiri tidak mengharuskan anak-anaknya meneruskan jejaknya. Seperti Ki MPP Bayu Aji sendiri yang diberi pilihan untuk menekuni apa yang menjadi kegemarannya. Tapi karena memang bakatnya di wayang, oleh Ki Anom Suroto ia pun di kursuskan di Sanggar Sarotomo. “Ketika kursus di sanggar sarotomo, Bapak bimbing dari belakang. Di sanggar saya diajari sekaran atau joget wayang dan perang sayang,” kisahnya. Darai sanggar sarotomo, Ki MPP Bayu Aji mulai pentas di Sriwedari dalam rangka Hari Anak Nasional yang disaksikan Walikota Solo waktu itu, Bapak Hartono. Karena penampilannya banyak memikat banya orang, ia pun diminta untuk pentas di Taman Mini Indonesia Indah (TMII) Jakarta setiap peringatan Hari Anak Nasional. “Pentasnya langsung di depan Presiden Soeharto waktu itu,” ujarnya bangga.

Tak hanya memainkan wayang, Ki MPP Bayu Aji juga belajar memainkan kendang. Ia mulai tertarik dengan kendang sejak melihat penampilan memukau Pak Ceret, pengendang asal Wonogiri yang mampun memainkan kendang Jaiping sebanyak 10 (sepuluh) buah. Oleh Ki Anom Suroto, Ki MPP Bayu Aji diminta belajar kendang dari seorang guru asal Jawa Barat. “Bapak ngundang guru tari dan karawitan juga. Jadi sebelum pentas, saya mucuki (mengawali) dulu dan Bapak ngendang. Dan kalau Bapak pentas saya yang ngendang, jadi gantian,” ujarnya. Karena seringnya pentas di TMII setiap peringatan Hari Anak Nasional, Ki MPP Bayu Aji pun semakin dikenal banyak orang. Saat masih duduk di bangku SD (Sekolah Dasar) ia sudah pentas di Nagoya, Jepang bersama kelompok wayang orang Bharata. “Melawat ke Nagoya, Jepang untuk menjadi duta seni. Disana saya menjadi orang desa yang memainkan kendang Jaipong dan seruling,” ungkapnya.


Kemampuan Ki MPP Bayu Aji yang tidak diragukan lagi itu semakin dipercaya Ki Anom Suroto untuk mucuki di setiap pementasannya. Namanya sebagai dalang cilik waktu itu pun semakin berkibar sehingga banyak anak-anak yang tertarik dengan penampilannya. Dari situ, akhirnya ia tertantang untuk mementaskan wayang dengan durasi yang cukup lama yaitu satu lakon.
Selain berduet dengan Ki Anom Suroto, Ki MPP Bayu Aji juga kebanjiran jadwal pentas sendiri. Banyak kalangan masyarakat yang tertarik dengan penampilannya, sehingga memintanya untuk pentas di berbagai acara. “Di tahun 2008 kemarin juga pentas wayang di Berlin, Jerman dengan Universitas Indonesia,” ujarnya.